Komisi Eropa menerbitkan statistik visa tahun 2025 pada 28 Mei 2026. Pengajuan naik 4,3% dalam setahun, dari 11,7 juta menjadi 12,2 juta, dan masih di bawah tingkat sebelum pandemi. Konsulat menerbitkan 10,3 juta visa. Porsi penolakan nyaris tidak bergerak: 14,6% dibanding 14,8% setahun sebelumnya.
Negara pengajuan terbesar: pilihan
| Negara tempat pengajuan | Pengajuan | Ditolak |
|---|---|---|
| Tiongkok | 1.915.149 | 4,0% |
| Turki | 1.268.376 | 14,6% |
| India | 1.153.748 | 15,8% |
| Rusia | 679.425 | 6,4% |
| Maroko | 619.827 | 19,2% |
| Arab Saudi | 553.967 | 5,2% |
| Aljazair | 444.577 | 31,3% |
| Mesir | 226.865 | 24,2% |
Angka dihitung menurut negara tempat pengajuan dilakukan, bukan menurut kewarganegaraan: warga asing yang tinggal di Turki dan mengajukan di sana masuk ke baris Turki.
Penolakan tertinggi di antara negara dengan lebih dari 30.000 pengajuan
| Negara pengajuan | Ditolak |
|---|---|
| Bangladesh | 54,5% |
| Senegal | 51,9% |
| Nigeria | 47,9% |
| Ghana | 46,5% |
| Pakistan | 45,9% |
Di ujung lainnya ada Belarus (2,3%), Tiongkok (4,0%), Indonesia dan Arab Saudi (masing-masing 5,2%). Dari Indonesia diajukan 223.862 permohonan; di Asia Tenggara angkanya: Thailand 5,9%, Filipina 6,9%, Vietnam 9,4%.
Konsulat mana yang paling sering menolak
Prancis adalah tujuan tersibuk — 3,1 juta pengajuan dan 14,2% penolakan — disusul Spanyol (1,7 juta, 14,6%), Jerman (1,5 juta, 13,1%), dan Italia (1,3 juta, 10,8%). Di antara tujuan besar, yang paling sering menolak adalah Belgia (26,1%), Portugal, dan Swedia (masing-masing 23,3%).
Formulir penolakan memuat alasan-alasan baku, dan sebagian besar menyangkut berkas: tujuan perjalanan tidak terbukti, kemampuan finansial tidak ditunjukkan, data tidak saling cocok. Itu semua bisa diperbaiki pemohon sebelum mengajukan.